Sabtu, 06 Maret 2010



History
Chuck Taylor All-Stars

The shoes were not particularly popular until basketball player Chuck Taylor adopted them as his preferred shoe. He was impressed with the design so he became the shoe's leading salesman.

After proposing a few changes to the shoe, the shoe got its current name and Chuck Taylor's signature on its ankle All Stars patch. One change was the switch to nonslip soles. Although classic black is the most popular, Chuck Taylor was himself known to prefer unbleached white high-tops (known in his day as simply "white").

In the 1950s the shoes became popular within the greaser subculture and amongst many fans of rockabilly.

Consumers demanded more variety from the shoe – particularly with respect to colors in order to match basketball teams – so colored and patterned shoelaces became popular to complement the two colors, blacks and whites, available before 1966. Afterwards, more colors and styles became available. Low-top or "Oxford", high-top, and later knee-high, versions were produced. More materials were offered for the construction, including leather, suede, vinyl, denim, and hemp. Some versions of the shoe were offered without laces, held up instead by elastic. These new versions of the shoe were also co-designed by Chuck Taylor, just before his death in 1969.

A full biography of Chuck Taylor was published by Indiana University Press in March 2006 under the title Chuck Taylor, All Star: The True Story of the Man Behind the Most Famous Athletic Shoe in History, with a foreword by the retired college basketball coach Dean Smith.

Fans of punk rock have adopted the shoe as a fashion trend since the late 1970s and many popular punk rock bands, such as the Ramones, have supported the trend by wearing the sneakers.

All-Stars became popular again in the '90s to fans of the world as famous grunge-punk band Nirvana emulated the band's frontman Kurt Cobain, who had worn All-Stars for many years prior to the 90's due to the influence of different punk rock bands he enjoyed in his youth. Rage Against the Machine guitarist Tom Morello was (and still is) also known for commonly wearing Chucks, and U2 guitarist The Edge has been seen wearing All-Stars onstage in recent years. Jackass star Johnny Knoxville is also known for his signature black hi-top All-Stars.

When Converse was bought by Nike in 2003 and operations were moved from the United States to overseas, the design saw a few alterations. The fabric for a short time was no longer 2-ply cotton canvas but 1-ply "textile" and many wearers noticed different patterns of wear. Because of these complaints the shoe was once again produced with the twin layer canvas design starting sometime in the past 5 years. This change caused about a $5 increase in the shoe across the brand from about $40 to $45 respectively.

Today the shoes are very popularly worn by children, teenagers, and young adults of both sexes. The shoes are available in several core colors, seasonal colors, and a variety of print styles

sejarah grunge


Istilah GRUNGE muncul pertama kali pada awal tahun 90′an saat Nirvana melejit lewat singlenya Smeel Like Teen spirits. Grunge merupakan perpaduan antara Heavy Metal dengan Punk dengan dasar sound yang muncul ala the Stooges dan Black Sabbath. Meski suara gitarnya mirip musik metal 70′an, tetapi estetika Grunge jauh berbeda dari musik metal tsb. Lirik dan musiknya lebih mengarah ke punk dan idealisme indie seperti aliran American Hardcore awal ‘80an.

Berikut Redaksi memilih tiga band Grunge yang di nilai berpengaruh besar dalam perkembangan aliran musik tersebut yaitu diantaranya Nirvana, SoundGarden dan Pearl Jam(ketiganya terbentuk di Seattle, Washington) yang kerap di jadikan acuan bagi pengusung grunge yang lain seperti Stone Temple Pilots, CandleBox, SilverChair, Everclear, Bush dan Seven Mary Three.

SOUND GARDEN

Meski dipengaruhi oleh blues rock Led Zeppelin dan rif-rif slow yang murung ala Black Sabbath, SoundGarden bukanlah band Metal. Musik mereka memiliki cita rasa punk seperti band D.I.Y lainnya dan sentuhan humor yang ironis serta cerdas khas band UnderGround Amerika dipertengahan’80an.

Kekuatan Vocal Chris Cornel dan rif gitar Kim Thayil yang lebar menjadikan ciri utama musik SoundGarden. Ciri khas pula yang membawa mereka keluar dari jalur Underground dan menjadi band Grunge pertama yang masuk ke dapur rekaman berlabel indie, Sup Pop dan kemudian naik ke Major Label.

Sejarah Soundgarden dimulai saat tiga sahabat dari lilinois yaitu Kim Thayil(Guitar), Hiro Yamamoto(Bass) dan Bruce Pavitt kuliah di Olympia, Washington tahun 1981. Ketimbang menyelesaikan kuliah, merekabertiga malah lebih suka bergelut di arena musik Underground di Washington. Pavitt yang tidak piawai main musik menjadi pendiri label Sub Pop. Yamamoto lalu membentuk band di tahun 1984 dengan teman sekamarnya yaitu Chris Cornell(Vocal) yang berasal dari Seattle dan pernah menjadi drumer dibeberapa band. Setelah Thayil dan Scot Sundquist(Drum) bergabung band itu pun lalu di beri nama SoundGarden. Dan pada tahun 1986 Scot keluar dari posisinya lalu diisi oleh Matt Cameron, Soundgarden kemudian merilis single Hunted Down di bawah label Sub Pop tahun 1987 sebelum merilis EP Screaming Life(1987) dan EP kedua FOPP(1988) menjadi Hit di kalangan Underground sehingga mereka langsung dilirik pihak Major Label. Baru setelah merilis Ultramega OK(1988) di bawah label indie SST, Soundgarden melompat ke perusahaan besar A&M Records dan merilis Louder Than Love(1989). Yamamoto kemudian keluar untuk meneruskan sekolahnya, padahal album Louder mendapat nominasi Grammy Award. Jason Everman, mantan drumer Nirvana sempat mengisi kekosongan sebelum Ben Shepard bergabung tahun 1990.

Setahun kemudian, album Badmotorfinger dirilis, meski di nilai bagus dan sempat mencetak beberapa hit, album ini kalah sukses dengan Nevermind milik Nirvana yang di rilis bersamaan. Oleh pihak A&M, Soundgarden lalu di pasarkan sebagai band metal dan mengikutkan mereka dalam tour Use Your Illusion Guns ‘N Roses. Andil mereka dalam tour G’NR ini dan pemberitaan besar-besaran tentang Grunge di media massa, membuat nama Soundgarden menjadi terangkat. Kesuksesan album Temple of the Dog(tribut to Andrew Wood) yang di kerjakan oleh Cornell dan Cameroon bareng Pearl Jam juga membuat Soundgarden semakin populer. Puncaknya, album Superunknown(1994), terjual lebih dari tiga juta keping dan meraih dua Grammy lewat single Black Hole Sun. Tetapi sangat di sayangkan kolompok yang di kenal dengan anti drugs ini tidak bertahan lama. Setelah merilis Down on the Upside(1996) yang meraih platinum dengan hit Pretty Noose, dan tampil di Lollapalooza, mereka memutuskan bubar pada bulan April 1997. Kabarnya para personilnya Soundgarden sudah tidak lagi sepaham dan memilih untuk mengerjakan proyeknya sendiri-sendiri.

NIRVANA

Lewat album kedua mereka yang bertajuk “Nevermind” Nirvana dianggap berjasa dalam mempopulerkan punk, post punk dan indie rock sehingga aliran tsb menjadi mainstream di Amerika. Sound Nirvana sendiri mirip Black Sabbath dan Cheap Trick dengan pengaruh dari band-band indie rock seperti The Vaselines dan Meat Pupppets. Jadilah musik Nirvana yang berideologi indie dengan melodi pop dan distorsi heave metal.

Sejarah Nirvana di awali oleh pertemuan Kurt Cobain(Guitar/Vocal) dan Krist Novoselic(Bass) lewat Buzz Osboume(leader dari grup The Melvins) di Aberdeen(dekat Seattle) pada tahun 1985. Meski memiliki latar belakang keluarga yang berbeda(keluarga Krist cukup harmonis sedangkan orang tua Kurt telah bercerai), mereka sama-sama menyukai musik hardcore punk. Kurt yang pernah gabung dengan band Punk yang bernama Fecal Matter kemudian membentuk Stiff Woodies bersama Krist. Waktu itu Kurt main drum dan krist pegang bass. Posisi Gitar dan vocal diisi oleh pemain tambahan sebelum Kurt memutuskan untuk menjadi gitaris sekaligus vocalis. Bersama drumer Aaron Burkhart, nama Stiff Woodies di ganti menjadi Skid Row, lalu di ubah lagi pada tahun 1987 menjadi Nirvana setelah setahun sebelumnya Aaron Burkhart keluar dan digantikan oleh Chad Channing. Nirvana kemudian membuat sepuluh demo bersama produser Jack Endino yang menawarkan demo tsb ke Jonathan Poneman, salah satu pendiri label Sub Pop(bareng Bruce Pavitt). Di bulan Desember 1988, Nirvana pun merilis single pertama lewat Sub Pop yang berjudul Love Buzz milik kelompok rock tahun 70′an asal Belanda, Shocking Blue. Single ini cukup sukses sehingga Nirvana langsung merilis debut album yang pertama yaitu Bleach(1989) dengan biaya hanya 600 dollar. Perlahan tapi pasti Bleach menjadi hit di radio-radio di kampus dan Nirvana secara konsisten mengadakan tur bersama gitaris kedua yaitu Jason Everman meski namanya di tulis di sampul kaset tetapi tidak main di satu lagupun. Jason kemudian meninggalkan Nirvana dan bergabung dengan Soundgarden kemudian Mindfunk.Bleach terjual sekitar 35.000 keping dan menjadi album favorit di kampus-kampus. Setelah merilis single Sliver, Dive bersama Butch Vig dan drumer Mudhoney, Dan Peters, Dave Grohl(eks hardcore band, Scream) masuk dan menjadi drumer tetap di Nirvana. Mereka lalu menggarap album keduanya yang bertajuk Nevermind di bawah label raksasa yaitu Geffen Records yang di rilis pada September 1991, setelah tur ke Eropa bareng Sonic Youth.

Lagu empat chord yang berjudul Smell Like Teen Spirits single dari album Nevermind ternyata meraih sukses berat. Videonya terus menerus diputar di salah satu stasiun music MTV dan menerobos Top Ten AS. Ditangga album Nevermind bahkan mengalahkan album milik Michael Jackson(Dangerous) dan sekaligus meraih triple platinum. Bukan hanya dunia industri musik yang di kejutkan oleh sukses besar tersebut, tetapi juga para personil Nirvana sendiri. Mereka tampaknya tidak siap mental untuk menerima kesuksesan tersebut. Popolaritas membuat ketiganya tertekan dan mulai bertingkah aneh dengan aksi panggung yang selalu di akhiri dengan perusakan alat-alat musik yang ada di panggung. Tekanan ini juga membuat Kurt dekat dengan obat-obat sialan itu. Pernikahan Kurt dengan Courtney Love(Hole) tahun 1992, tidak memperbaiki keadaan. Kurt semakin kecanduan obat, Love bahkan di kabarkan juga mengkonsumsi obat-obat sialan itu pada saat hamil putri mereka, Frances Bean. Masalah pribadi membuat Nirvana tidak menggarap album baru, sebagai gantinya mereka merilis Incestiside(1992) yang merupakan kumpulan-kumpulan single lama. Baru di tahun 1993 mereka merilis album In Utero bersama produses Steve Albini. Album ini sukses di pasaran dengan Hit Heart Shaped Box dan All Apologies. Kesuksesan Nirvana Nirvana tidak diikuti dengan kesembuhan Kurt, Kurt semakin tenggelam dalam depresinya dan beberapa kali berusaha untuk bunuh diri. Puncaknya, Kurt dikabarkan meninggal akibat bunuh diri dengan menembakan kepalanya sendiri pada bulan April 1994. Kematian Kurt membuat Krist dan Dave memutuskan untuk membubarkan Nirvana. Sebelumnya, mereka merencanakan merilis album MTV Unplugged(1994) dan From Muddy Banks of the Wishkah(1996) secara live version. Dua mantan personil Nirvana kemudian membentuk grup baru. Krist membentuk trio Sweet 75 dan Dave menjadi Gitaris dan vocalis Foo Fighters.

PEARL JAM

Pearl Jam bangkit dari puing-puing Mother Love Bone yang di tinggal mati Vocalisnya, Andrew Wood akibat Over Dosis pada tahun 1990. Setahun kemudian gitaris Stone Gossard dan bassis Jesf Ament merekrut Mike Mc Cready(lead guitar), Eddie Vedder(vocal), dan Dave Krusen untuk membentuk Pearl Jam. Pada awal tahun 1992 mereka merilis debut album yang bertitle Ten saat itu industri musik mulai bisa menerima aliran lewat kesuksesan Nirvana. Ten langsung melejit menyamai jumlah penjualan Nevermind dengan tiga hit Alive Evenflow, dan Jeremy. Pearl Jam pun dikenal lewat musik yang memadukan rif heavy rock tahun ‘70-an dengan post-punk ‘80-an.

Tak lama setelah merilis album, drumer Krusen mengundurkan diri dari posisinya lalu langsung di isi oleh Dave Abruzzese. Bersama Abruzzese, Pearl Jam menggelar tour keliling Amerika termasuk konser Lollapalloza II. Meski namanya mulai naik daun, popularitas nampaknya menjadi hal yang tabu oleh para personel Pearl Jam. Mereka menolak membuat video untuk lagu-lagu seperti (Daughter, Animal, Rearview Mirror) dari album kedua Vs(1993). Padahal sebelumnya video Jeremy menjadi video terbaik versi MTV. Selain menolak membuat klip, Pearl Jam juga menolak menggelar konser di stadion besar. Mereka lebih suka pentas kecil termasuk di halaman kampus. Tur keliling Amerika tersebut akhirnya batal karena perselisihan Pearl Jam dengan Ticketmaster yang menjual harga tiket diatas 20 dollar. Pada tahun 1994 Pearl Jam kembali masuk ke studio rekaman dan menggarap album Vitalogy. Setelah rampung, mereka memecat Dave Abruzzese dan merekrut mantan drumer RHCP (Eleven Jack Irons). Irons adalah sahabat lama Vedder yang dulu sempat ditawari untuk bergabung sebelum masuknya Krusen pada waktu awalnya Pearl Jam terbentuk. Dua minggu pertama, meski di rilis dalam jumlah terbatas(Vitalogy) telah bertengger di tangga lagu Top 60. Begitu dirilis dalam jumlah besar album ini meraih multi platinum dan menerobos ke posisi teratas tangga lagu dengan hit Immortality. Sementara itu para personel Pearl Jam meneruskan tuntutan mereka pada Ticketmaster di tahun 1995.

Pada tahun itu pula, Pearl Jam tampil dalam album Neil Young lewat lagu Mirror Ball. Setelah itu masing-masing personelnya sibuk dengan berbagai proyek sampingan. Eddie sibuk menjalani tur bareng Hovercraft yang ia bentuk pada tahun 1994, Stone mendirikan perusahaan rekaman indie dan McCready membentuk MadSession bareng vocalis Alice In Chains, Layne Stayley(Above). Album keempat, No Code menandai kemunduran popularitas. Eksperimen musik yang mereka lakukan di album ini membuat para penggemar Pearl Jam terkejut. Album No Code banyak menampilkan lagu-lagu bertempo lambat seperti Off He Goes, I’m Open, dan Around The Bend. Perselesihan dengan tiketmaster juga membuat band ini tidak menggelar tur. Praktis di tahun 1997 nama Pearl Jam seakan tenggelam. Mereka lalu bangkit lewat Yield(1998). Di album ini Pearl Jam kembali menggeber musik hard rock dan menggelar konser-konser besaran. Dialbum ini pula Ament dan McCready mulai menulis lagu secara penuh—sebelumnya hanya Gossard dan Vedder yang menulis lagu pada setiap albumnya. Terakhir, Pearl Jam merilis album live yang berjudul Live On Two Leg di akhir

DISTRO DAN SEJARAH NYA


|


DISTRO DAN SEJARAH NYA
Penulis :di sadur dari cannizaro


Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya.

Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran.

Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung pada tahun 1973. Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan ‘90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun ‘96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya.

Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro(2) yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.

Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb.

Reverse: Markas Kecil di Sukasenang
Adalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork, asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.

Kemudian bermunculan sederet komunitas baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

“Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!”, ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. “Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan”, ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. “Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda.” Demikian urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Tidak lagi di Sukasenang, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.

“Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama.” Ujar Dede pada suatu kesempatan. Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. “Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.”, jelasnya.

Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTV
Tidak hanya di era ‘90-an – apabila kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat & Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya, melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun ‘92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung.

Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media & informasi juga secara radikal mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung kearah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream & produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Melalui keberadaan beberapa komunitas anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa kesempatan, wacana budaya perlawanan (counter culture) pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini.

Pertumbuhan yang pesat yang sangat ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri. Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang diberi judul “masaindahbangetsekalipisan”, yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal Singapura atau Malaysia. “Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil,” ujarnya.

Wujud dari terbentuknya jaringan yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun ‘97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records merilis sebuah kompilasi yang berjudul “Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp”. Kompilasi ini didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin, Jasad, dsb.

Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru, baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh dunia. Salut!




SKOTLANDIA - Ilmuwan Eropa berhasil menemukan sebuah planet baru yang ditengarai memiliki penghuni. Planet ini bernama CoRoT-Exo-4b.

Planet baru ini berukuran sebesar Jupiter dan beredar di sekitar bintang yang berlokasi dekat dengan matahari. Planet tempat alien bersarang tersebut membutuhkan waktu sekira 9,2 hari untuk mengitari bintang tersebut. Waktu perjalanan yang cukup lama dibanding planet terluar lainnya.

Nama CoRoT-Exo-4b ini diambil dari sebuah teleskop yang berhasil menangkap planet aneh ini. Teleskop luar angkasa bernama CoRoT ini didesain dan dimiliki oleh badan luar angkasa Eropa untuk mencari keberadaan planet-planet terluar.

"Kami belum tahu jika CoRoT-Exo-4b dan bintang yang mengiringinya mampu melakukan rotasi sejajar sejak formasi mereka yang pertama pada satu miliar tahun lalu. Atau mungkin dalam waktu dekat keduanya dapat mensejajarkan diri," ujar peneliti dari Universitas Exeter Suzanne Aigrain, seperti dikutip melalui Space.com, Jumat (25/7/2008).

Para peneliti cukup terkejut dengan temuan ini. Pasalnya planet tersebut tidak memiliki kapasitas massa dan jarak yang cukup untuk mengitari bintang yang berada di dekatnya. Padahal massa dan jarak merupakan hal yang cukup penting untuk bisa menekan gravitasi dan mempengaruhi rotasi yang dilakukan planet tersebut.



Bahasa Indonesia > Tema > Kesehatan
Aborsi Remaja Indonesia
Antara Mitos dan Realita

Radio Nederland Wereldomroep

26-02-2009
Wawancara dr. Nyoman Sutarse

Jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2,3 juta dan 30% di antaranya dilakukan oleh remaja. Menurut PKBI, Pusat Keluarga Berencana Indonesia, kehamilan tidak diinginkan di kalangan remaja hingga kini masih menjadi dilema yang belum dapat diselesaikan secara tuntas.

abortus.180.jpgBanyak pihak memojokkan remaja sebagai pelaku tunggal. Padahal, jika dicermati lebih lanjut, aborsi di kalangan remaja sebetulnya disebabkan oleh serangkaian masalah. Remaja kurang mendapat informasi terkait kehamilan atau sistem reproduksi dan sering terjebak mitos.

Berikut penuturan dr. Nyoman Sutarsa, Koordinator Kita Sayang Remaja (Kisara) di Denpasar.

Tiga Masalah
Nyoman Sutarsa [NS]: Jadi kalau khususnya pada kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja, kalau kami, organisasi yang bergerak di bidang remaja itu selalu memesankan, ada tiga masalah yang sedang dihadapi oleh para remaja. Jadi yang pertama itu kita formulasi dalam bentuk lemahnya akses informasi.

Jadi antara sumber informasi yang tersedia banyak sekali. Hanya saja yang menyediakan informasi yang benar itu yang masih terbatas. Itu yang penyebab yang pertama. Kemudian yang kedua, umumnya layanan yang ramah remaja itu masih sangat terbatas.

Kemudian yang ketiga itu, pemberdayaan remaja sendiri yang masih lemah. Jadi masih sedikit organisasi atau lembaga yang mau melakukan pemberdayaan remaja.

Mitos
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Tadi Pak Sukarsa menyebutkan remaja itu banyak mendapatkan informasi, tapi informasi itu tidak benar gitu. Informasi apa saja itu Pak yang mereka dapatkan?

NS: Jadi misalkan saja seperti ini. Ketika mereka mendapatkan informasi tentang hubungan seksual. Sering sekali mereka mendapatkan informasi bahwa hubungan seksual sama sekali itu tidak akan menyebabkan kehamilan. Informasi seperti ini jelas salah kalau kita melihat dari sudut pandang kesehatan. Karena semua aktivitas yang melibatkan hubungan seksual itu memiliki risiko untuk hamil.

Nah, informasi yang kedua, misalkan ketika dia sudah melakukan hubungan seksual dan terjadi ejakulasi di dalam. Itu ada informasi yang berkembang di remaja bahwa loncat-loncat atau pun mencuci kemaluan dengan minuman bersoda misalkan, itu juga mencegah kehamilan.

Nah, informasi seperti ini kan jelas keliru. Yang ini kita harus bantu remaja-remaja kita dengan informasi yang benar tadi. Ya, banyak sekali mitos-mitos yang berkembang di kalangan remaja seperti ini.

Perbandingan Dengan Belanda
RNW: Kalau kita melihat kasus di Belanda, kalau kita bandingkan gitu Pak ya, angka kehamilan yang tidak diinginkan remaja di Belanda termasuk yang paling kecil di Eropa. Itu adalah hasil upaya pemerintah yang tidak hanya menyediakan fasilitas layanan kesehatan, tapi juga banyak sekali kampanye-kampanye gitu. Misalnya pemakaian kondom, safe sex, kemudian juga penyuluhan seks di sekolah-sekolah. Nah, itu di Indonesia ada nggak kampanye seperti itu?

NS: Kalau komunikasi informasi itu kita lakukan, dan itu hampir di semua provinsi di Indonesia dilakukan. Hanya saja barrier-nya antara Belanda dan Indonesia mungkin tidak bisa disamakan begitu saja, saya rasa. Contoh kecil di Indonesia kita terbentur dengan norma dan undang-undang, ketika kita mensosialisasi kondom, bila kita melakukan sosialisasi kontrasepsi remaja, itu kita terbentur dengan aturan dan norma-norma.

Jadi padahal kita tidak bisa menutup mata bahwa remaja itu memang sudah aktif secara seksual. Sehingga untuk mencegah supaya mereka tidak hamil, sebetulnya salah satu yang saya rasa cukup efektif adalah komunikasi tentang kontrasepsi remaja.

Tapi ketika kita berbicara tentang kontrasepsi remaja, kita kembali dibenturkan dengan aturan, kemudian kita dikatakan bahwa kita melegalkan hubungan seksual pranikah seperti itu.

Jadi hal-hal seperti ini yang masih kita hadapi. Kalau komunikasi informasi tentang masalah reproduksi sendiri sudah kita lakukan dari awal berdirinya program remaja sebetulnya.

Hanya saja ada beberapa informasi-informasi tertentu, atau pun layanan-layanan tertentu seperti KB tadi yang saya katakan, layanan kontrasepsi memang belum bisa kita sediakan buat remaja. Jadi mungkin ini beberapa kendala yang saya rasa juga merupakan hambatan kunci. Ketika kita ingin menurunkan angka kejadian kehamilan yang sudah diinginkan.

Norma
RNW: Kemudian tentang masalah norma di Indonesia bahwa seks dianggap tabu, tidak dibicarakan. Dan juga asumsi adalah orang tidak melakukan hubungan seksual sampai menikah gitu kan, tapi pada kenyataan memang itu tidak terjadi. Nah ini solusi ke depannya apa ini Pak?

NS: Solusi ke depan tentunya kemarin kami sudah sempat berbicara ketika kalau kita sepakat untuk menurunkan kejadian kehamilan yang tidak diinginkan, karena kondisi remaja kita kan sekarang mereka sudah sangat terbiasa melakukan hubungan seksual sebelum menikah itu sudah terjadi gitu kan.

Kalau kita memang sepakat untuk menekan angka kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja-remaja yang sudah aktif secara seksual, informasi yang mereka butuhkan dan layanan yang mereka butuhkan adalah kontrasepsi remaja. Itu satu hal penting yang harus kita lakukan.

Kemudian pada remaja-remaja yang memang belum aktif secara seksual, prinsip tidak melakukan seks yang paling baik. Jadi kita sudah mengatakan secara kasar kita membagi remaja kita menjadi yang sudah aktif secara seksual dan yang belum aktif secara seksual, karena treatment-nya berbeda. Jadi, tidak bisa disamaratakan seperti itu.

Solusinya seperti itu. Kita sediakan layanan kontrasepsi yang sudah aktif. Kemudian kita tetap mengkampanyekan safe sex. Kalau bisa tidak melakukan hubungan seks bagi remaja-remaja yang belum aktif secara seksua



Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Punk

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Gaya hidup dan Ideologi

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n� roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.


Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Punk dan Anarkisme

Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n� roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).

Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.

Pengantar

- saya bukan ahli komunisme

- sebagai orang asing: tidak mau ikut campur dengan diskusi politik yang aktual (sejarah dan masalah politik harus direfleksikan oleh orang Indonesia sendiri) - pencabutan / pengaktualisasian Tap MPRS Nomor XXV 1966 (karena disalahgunakan oleh orba...)?

- yang kita bisa lakukan sama-sama: mengklarifikasi "tentang apa sebenarnya kita bicara?" (banyak yang tidak tahu!) - lihat dengan mata yang lebih jujur (yang bukan hanya terselubung oleh "trauma" dll.) dan kritis terhadap diri sendiri (apa seharusnya kita belajar) untuk melawan ideologi komunisme, kita harus tahu apa yang kita melawan - haraus mengenal komunisme;



- jangan sampai kita hanya mencipta ketakutan terhadap suatu "musuh buatan" yang menghantui dan yang dibesar-besarkan sebagai "momok" untuk menakuti dan membingungkan masyarakat dan menciptakan suasana saling mencurigai sampai saling sembelih lagi.

- jangan kita menyalahgunakan isu komunisme untuk kepentingan politik tertentu (contoh: Afrika selatan - sumua yang kritis terhadap pemerintah diktatur dan rasis di"cap" sebagai orang komunis - hasilnya: banyak orang yang kritis menaggap diri sebagai komunis tanpa tahu apa artinya, dan lebih mudah untuk dipengaruhi oleh orang komunis yang mengunakan situasi)

- jangan dengan berteriak-berteriak, kita dengan tidak sengaja membesar-besarkan komunisme!

- melarang bisa menjadi kontraproduktiv (VCD...)

- Implikasi demokrasi: ideologi/pemikiran orang secara pribadi tidak boleh dibatasi lagi; yang dapat dibatasi hanya struktur-struktur atau organisasi-organisasi yang bertentangan dengan kebebasan tersebut, dengan prinsip-prinsip demokrasi dan Undang-undang Dasar (yang punya tujuan untuk meniadakan sistem demokrasi). Melindungi negara dari upaya membangun sistem komunis (suatua bahaya yang sebenarnya tidak real, karena "projekt" itu sudah gagal secara global dan saya belum mendengar suatu suara pun yang mau membangun negara komunis di Indonesia sekarang ini) - tidak memberi hak untuk pemerintah demokratis untuk membatas pembebasan berpendapat pribadi dan melarang hak asasi dan hak-hak sipil keturanan pengikut PKI (atau keturanan mereka yang dianggap komunis karena satu dan lain hal). - rehabilitasi korban!

- jangan kita hanya menutupi kesalahan-kesalahan diri sendiri (refleksi sejarah! introspeksi dulu! pertobatan, mengakui dosa/meminta maaf sebagai hakikat sikap teologis Kristen dan Islam!)



Konteks kelahiran Marxisme/Komunisme dan inti ajarannya



Marxisme/Komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.



Pemahaman diri sendiri Marxisme bukan merupakan suatu filsafat baru (menurut Marx, filsafat hanya sibuk menginterpretasi sejarah dan kenyataan), tetapi bermaksud menganti filsafat (dengan tujuan mengubah sejarah dan kenyataan). Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu "manifesto Komunis" di mana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis. Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), ya bahkan tanpa negara (stateless society): sosialisme/komunisme. Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas / kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya.



Falsafah hidup atau "weltanschauung" marxisme adalah Ateisme. Pertama-tama ateisme itu harus dimengerti dari konteks kelahiran Marxisme, di mana terutama gereja Kristen Protestan gagal untuk merespon tantangan-tantangan sosial yang muncul pada abad ke-19 di Eropa. Kalau Marx berbicara tentang agama sebagai "opium untuk bangsa" - di depan matanya terutama adalah suatu agama seperti gerakan Pietisme Kristen Protestan yang mengutamakan "keselamatan jiwa" seseorang dan tidak peduli terhadap kondisi sosial dan politik. Karl Marx mengalami bentuk agama yang hanya menstabilkan status quo dan yang beraliansi dengan penguasa-penguasa zamannya. Allah diperalat untuk melegitimasi struktur-struktur kuasa dan sistem politik-kapitalis.

Namun, Ateisme komunis bukan hanya hasil konteks sosial-politis abad ke-19, tetapi berkembang menjadi suatu ideologi anti-agama. Dalam dialog antara komunisme dan agama yang dilaksanakan dalam pelbagi bentuk khususnya pada tahun enampuluhan abad ke-20, beberapa orang komunis memang mengakui bahwa agama bisa juga merupakan suatu faktor pembebasan dan keadilan sosial, tetapi pendirian ateis tidak pernah dipertanyakan. Untuk Marxisme, agama adalah projeksi manusia (Feuerbach) dan hanya mencerminkan struktur-struktur kuasa masyarakat. Manusia harus membebaskan diri dari semua ketergantungan dan otoritas, baik manusiawi maupun ilahi.



Menurut Etika Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang bedasarkan pernyataan/wahyu ilahi atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materiel masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (mis. dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya - yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas - untuk "keselamatan" seluruh bangsa.

Disini nampak antropologi (gambar tentang manusia) dari marxisme yang sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, yang melalui kerja manusia alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses me-masyarakat-kan, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll.) ditiadakan. Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.



Disini muncul jurang yang sangat besar antara teori dan praktek marxisme, antara ideologi komunisme dan sosialisme real". Negeri yang pertama kali menerapkan sistem komunisme adalah Uni Soviet, 1917 di bawah pimpinan Lenin (...Stalin, Krushev...Brezhnev, Gorbachev), dan banyak negara lain yang ikut, sampai sesudah perang dunia II, dunia dibagi menjadi dua: dunia "kapitalis" dan "dunia komunis" yang saling memusuhi dalam "perang dingin". Bahkan ada negara yang dibagikan, seperti Korea Selatan dan Korea Utara atau Jerman Barat dan Jerman Timur. Kita memang bisa lihat beberapa contoh, di mana nilai-nilai sosial komunisme diwujudkan dengan cara yang menyakinkan, namun secara garis besar kita dapat bilang bahwa nilai-nilai itu akhirnya membuktikan diri bahwa tidak dapat diwujudkan dalam sistem politik dengan cara yang menguntungkan masyarakat. Melainkan, nilai-nilai sosial sering dikurbankan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan dalam konteks nasional dan internasional.



Bagaiman sikap kita terhadap Marxisme/Komunisme, khususnya dari perspektif agama?



Disini kita harus jelas, apakah kita mengkritik ideologi atau praktek real komunisme? Sebenarnya, sistem-sistem komunis-real dapat dikalahkan dengan "senjatanya sendiri" - dan kebanyakan sistem komunis gagal terutama karena perubahan dari dalamnya dan ketidakpuasan bangsanya sendiri. Yang mau ditinggalkan oleh marxisme: penindasan, ketidakadilan, ketidakbebasan masyarakat justru dikembangkan lebih keras dalam kenyataan negara-negara komunis: milik kolektif bangsa menjadi milik minoritas yang berkuasa (namanya seharusnya bukan komunisme, tetapi "kapitalisme negara") yang penuh dengan KKN; Upaya untuk membebaskan manusia dari perwalian / paksaan / tekanan religius berkembang menjadi suatu "agama pengganti" yang bahkan lebih intoleran dan totaliter, dan hanya mengizinkan aktivitas gereja Kristen atau agama lain kalau mereka tidak kritis dan dapat diperalat untuk kepentingan-kepentingan sistem komunis. Konformitas yang dipaksakan dari atas dengan sistem-sitem kontrol dan mata-mata (dinas rahasia dalam negeri) yang luar biasa; kekerasan dan pelanggaran HAM yang terselubung di belakang tujuan-tujuan pembebasan revolusioner. Individu mendapat status sosialnya bukan sesuai dengan prestasinya atau kebutuhannya, tetapi sesuai dengan tingkat konformitasnya dengan sistem politik. Motivasi komitmen untuk bekerja dan untuk inisiatif ekonomis tidak ada lagi, sehingga ekonomi menjadi hancur. Toleransi terhadap minoritas-minoritas dan solidaritas internasional menjadi lapangan permainan kuasa.



Yang saya maksud adalah bahwa dalam ideologi dan motivasi Marxisme ada juga inti yang benar, yang telah dikhianati oleh sejarah komunisme sendiri. Kalau kita jujur, hal semacam ini tidak hanya dialami oleh Marxisme, tetapi oleh kita sendiri. Nilai-nilai Pancasila diperalat dan dikhianati oleh orba, sehingga beberapa bentuk orba sebenarnya tidak jauh berbeda dengan beberapa sistem komunis. Nilai-nilai Kristen yang intinya kasih, toleransi dan perdamaian, sering dan sampai sekarang ini dikhianati oleh sikap-sikap intoleran atau aliansi-aliansi dengan penjajah atau penguasa bagi kepentingan sendiri. Dan pasti saudara-saudari Islam akan menemukan hal yang serupa juga kalau menguraikan sejarahnya sendiri.

Jadi, mari kita membandingkan praktek dengan praktek, dan teori dengan teori! Sebenarnya dalam "teori" Marxisme ada banyak nilai etika sosial yang dapat kita temukan dalam Al-Quraan dan dalam Alkitab pula.

Oleh karena itu, tantangan pertama dari Komunisme untuk orang Kristen dan Islam: Apakah kita betul-betul memperjuangkan hak asasi orang kecil dan keadilan sosial, atau hanya menstabilkan status quo dan beraliansi dengan penguasa? Mari kita mengambil kegagalan Komunisme untuk mewujudkan ideal-ideal mereka secara baik, terutama sebagai alasan untuk retrospeksi dan introspeksi diri secara kritis, di mana kita telah mengkhianati nilai-nilai agama kita masing-masing!



Kalau kita bersedia untuk itu, kita juga punya hak untuk mengkritik ideologi-ideologi Marxisme. Dan memang, dari perspektif agama Kristen dan agama Islam, kita punya banyak alasan dan dasar untuk mempertanyakan tesis-tesis marxisme secara fundamental.



- Misi/dakwah kita terhadap komunisme: Tidak ada harkat manusia tanpa ketergantungan kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Esa; ini merupakan dasar seluruh kehidupan individual dan sosial. Tidak ada keadilan duniawi kalau tidak berdasarkan keadilan Allah. Manusia tidak pernah dapat menciptakan atau menebus diri sendiri.



- Misi kemanusiaan tidak bisa diwujudkan dengan cara kekerasan, pemaksaan, pelarangan, tetapi hanya dengan cara praktek yang menyakinkan! Suatu maksud dan tujuan yang baik tidak dapat membenarkan metode-metode yang totaliter seperti digunakan oleh komunisme.



- Perubahan sosial dan keadilan tidak bisa diciptakan hanya dari "atas", karena dengan mengubah sistem masyarakat kenyataan manusia belum membaik secara otomatis. Harus juga ada perubahan dari "bawah", di mana manusia, yang cenderung berdosa, bertobat; di mana relasi manusia dengan Allah dibaharui dalam iman, dan di mana relasi manusia dengan sesamanya dibangun kembali dengan mengikuti perintah-perintah Allah.





Kesimpulan: Ancaman yang dapat mengakibatkan Ateisme datang bukan terutama dari "luar" (Komunisme dll.), melainkan dari dalam kita sendiri; dari ketidakmampuan kita untuk mewujudkan nilai-nilai agama kita masing-masing; dan kalau agama-agama terus-menerus saling memusuhi dan bahkan saling menbunuh, kita bersama-sama bertanggungjawab jika orang melarikan diri ke Marxisme atau Ateisme dan yakin bahwa "lebih baik tidak punya agama".



Jangan kita membangung masa depan kita atas trauma-trauma historis dan atas gambar-gambar musuh yang dibesar-besarkan, pikiran "hitam-putih" / "kiri-kanan" dll. yang sebenarnya tidak berlaku lagi, tetapi pertama-tama mencari kesalahan sejarah dan "musuh" dalam diri kita sendiri supaya suatu proses rekonsiliasi dan dialog yang santai, jujur dan realistis bisa terjadi.



Demikian kontribusi saya untuk diskusi kita. Saya mohon maaf atas semua kekurangan yang ada, baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam memikirkan tema yang diberi kepada saya. Namun, kekurangan-kekurangan bisa menjadi dasar yang sangat bagus untuk saling mengisi, memperkaya dan berkembang dalam dialog!



Pdt. Markus Hildebrandt Rambe

Dosen STT INTIM Makassar





Catatan untuk diskusi terbuka

"Adakah Titik Temu Ajaran Karl Marx dengan Agama-agama yang ada di Bumi?

(Human and Religious Club Hn'Rc – Kampus STIE – Ampok Makassar)





1. Yang harus dilakukan lebih dahulu sebelum membahas tema ini: menghilangkan tabu, citra Marxisme-Komunisme sebagai "hantu" yang menakutkan (atau alat untuk menakuti), melihat masalh secara obyektif:

- memahami M-K sebagai produk sejarah tertentu, khususnya industrialisasi Eropa abad ke-19, masalah-masalah sosial-politis pada waktu itu, serta kegagalan lembaga-lembaga keagamaan untuk menjawab tantangan zaman itu (khususnya rakyat bawah)

- memahaminya sebagai salah satu kosep filsafat dan sosial-politis dengan kekuatannya dan kelemahannya (yang harus distudi untuk memahami sejarah dan realitas kita dewasa ini)

- memahami perbedaan antara teori (idealisme yang baik, yang menjadi titik tolak) di satu sisi dan di sisi lain bentuk-bentuk historis (ideologi yang menjadi alat kekuasaan di negara-negara atau gerakan-gerakan komunisme-leninisme) yang sering mengkhianati ideal-ideal marxisme sendiri (disini tidak jauh berbeda dengan agama-agama!)

- memahami realitas bahwa K-M tidak lagi "ancaman" secara global maupun nasional => Konsep Marxisme-Komunisme telah gagal sebagai sebuah "ideologi dan sistem absolutisme untuk menyelamatkan dunia" ("Hantu" komunisme hanya dibesar-besarkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan mereka sendiri dan untuk menarik perhatian dari masalah-masalah yang sebenarnya!)

- sehingga kita dapat menilai secara obyektif, baik jejak-jejak positif maupun negatif dalam sejarah, termasuk unsur-unsur yang telah menjadi bagian integral dari sistem-sistem demokrasi sosial maupun dalam teologi-teologi agama (M-K tidak bisa dihapus lagi dari sejarah, meskipun kegagalannya ada banyak kontribusi yang positif dan bayak kemajuan karenanya – misalnya teologi-teologi pembebasan – Islam, Kristen dll – yang banyak terinspirasi meskipun tidak merupakan "komunisme"; mereka banyak belajar dari nilai-nilai, metode-metode analisa sosial dsb dan mentransformasikannya ke dalam pikiran dan praktek agama; belajar juga dari kegagalan-kegagalan dan sisi problematis M-K)

- jadi disini kita lebih berbicara tentang "ajaran" Karl Marx dan dengan demikian akan juga mencari nilai-nilai positif yang tergandung di dalamnya.



2. Di mana titik temu antara Ajaran Karl Marx dengan Agama-agama ("… yang ada di bumi…" – perspektif saya: seorang Kristen yang selalu dalam dialog dengan saudara-saudara Islam).

a) Kritik sosial

- terhadap sistem kapitalisme, eksploitasi kaum prolitariat (kaum buru)

- pendekatan analisa sosial yang melihat penyebab-penyebab penderitaan kaum/kelas bawah (bukan hanya "memperbaiki" nasibnya dan kondisinya sedikit dengan "membantu" mereka secara karikatif), namun dengan merubah struktur-struktur ketidakadilan

- disini memang M-K selalu dianggap berbahaya oelh semua orang atau instansi yang ingin mempertahankan status quo.

- disini agama-agama ditantang untuk melihat kembali keterlibatan sosialnya: hanya karitatif atau transformatif? (dan apa motivasinya…?)

- ingat kembali motivasi Karl Marx dan para pengikutnya yang sangat positif: humanisme (kemanusiaan),; ada optimisme sejarah: perubahan terjadi melalui revolusi proletariat (tidak dimaksud sebagai pertumpahan darah dan kekerasan!); ideal sosialisme: damai dan keadilan untuk semua (perkembangan sistem-sistem M-K-Leninis mengkhianati nilai-nilai tersebut dengan memutlakan ideologi mereka, humanisasi dikorbankan lagi untuk kepentingan sistem dan penguasa)

- menilai krisis, kritik & konflik secara konstruktif: dialektika sejarah: ada status quo yang menindas – ada oposisi/tantangan dari mereka yang tertindas – terjadi konflik dan perbaharuan sejarah, situasi yang lebih maju dan adil. => tantangan untuk budaya kita yang cenderung menghindari dan menutupi konflik, dan kalau tidak bisa dihindari, mengarahkan konflik menjadi destruktif (agama – "harmoni" dalam umat – budaya konflik dan rekonsiliasi yang kurang dikembangan)

a) Kritik agama

- terkenal kritik Karl Marx: Agama sebagai "candu untuk rakyat" – harus dipahami dari konteks sejarah: Protestantisme Pietis yang bergandengan tangan dengan penguasa, mengstabilkan status quo, gagal untuk menjawab tantangan-tantangan sosial

- untuk Marx: agama sebagai "superstruktur" hasil sebuah proyeksi manusia (penguasa dunia => Allah mahakuasa; atribut-atribut penguasa manusia digunakan untuk menciptakan gambaran tentang Allah) – bdk Ludwig Feuerbach (namun perbedaan: untuk Feuerbach, agama harus dihilangkan, masalah manusia selesai karena manusia menemukan dirinya kembali; untuk Marx struktur sosial-ekonomis-politis harus diubah untuk membebaskan manusia, agama akan hilang dengan sendirian)

- Kita bisa menolak pendekatan itu sebagai ateis dan kafir dan membela agama melawan serangan kritik agama tersebut. Namun dapat juga dijadikan bahan pertimbangan untuk mengintrospeksi diri, kereksi untuk keagamaan kita masing-masing, dalam dua aspek:

- kelembagaan agama: hanya cari lindungan di bawah pemerintah dan penguasa, cari keuntungan untuk umatnya, lembaga keagamaannya, untuk misinya atau dakwahnya (apakah di bawah seorang Sultan, di bawah penjajah kolonial atau di bawah pemerintahan orde baru… - agama yang rela untuk disalahgunakan untuk kepentingan politik dan menyalagunakan politik untuk kepentingannya); apakah agama hanya mengstabilkan status quo, berpihak kepada mereka yang kuat dan berkuasa dari pada kepada mereka yang lemah dan tertindas? – kalau begitu, memang agama cenderung menjadi "candu rakyat" yang bahkan bisa berbahaya (kalau digunakan untuk memanas konflik, menfanatisir orang untuk berperang….)

- koreksi untuk teologi: kita harus sadar bahwa agama kita masing-masing memang mengandung unsur-unsur proyeksi manusia, yang tidak baoleh dimutlakan dan harus dibedakan dari wahyu Allah sendiri. Ada banyak aturan dan dogma dalam agama kita masing-masing yang bukan langsung berasal dari firman Allah, namun merupakan produk bahasa, budaya dan sejara manusia – dan dapat menjadi bahaya kalau dimutlakkan dan diklaim sebagai kebenaran absolut. Aturan-aturan dan dogma-dogma hasil perbuatan manusia tersebut bisa dan bahkan harus berubah sesuai dengan konteks kita, untuk mewujudkan kehendak Allah secara kontekstual. Kritik agama Marx dapat membantu kita untuk terus-menerus membebaskan agama kita dari unsur-unsur proyeksi atau aturan dan dogma manusia yang tidak cocok lagi dengan konteks dan dengan inti wahyu Allah.

a) Nilai-nilai kemanusiaan

- kesimpulan: ada banyak hal dalam ajaran Karl Marx yang tidak dapat diharmonisasikan dengan ajaran agama (dlm hal ini agama Kristen, atau juga agama Islam). Namun memang ada titik temu atau dengan lebih tepat: bidang interaksi di mana agama juga dapat belajar dari tantangan M-K.

- M-K mengingat kita untuk menjadikan kembali kemanusiaan sebagai titik tolak.

- Kemanusiaan menjadi ukuran untuk mengkritik semua ideologi sosial-politis-ekonomis (kapitalisme, komunisme, pancasila, demokrasi atau negara agama)

- Agama-agama sendiri harus membuka diri untuk dikritik dari ukuran kemanusiaan tersebut – bukan karena komunismae, namun kita teringat lagi pada nilai-nilai kita sendiri yang diwahyukan oleh Allah kepada umat lita masing-masing.

- dengan demikian, tema yang sebenarnya paling relevan untuk reinterpretasi agama kita masing-masing dan kehidupan bersama agama-agama di Indonesia dan di Makassar bukan Marxisme-Komunisme (ini hanya suatu katalisator dalam menemukan kembali hakikat agama seperti dihendaki Allah), namun kemanusiaan, atau "sipakatauki" – memanusiakan manusia